Sunday, January 22, 2017

Udang Vannamei

Klasifikasi Morfologi Udang Vannamei 

        Klasifikasi udang vaname menurut Effendie (1997) adalah sebagai berikut:
Kingdom             : Animalia
Filum                  : Arthropoda
Kelas                  : Malacostraca
Subclass            : Eumalacostraca
Ordo                  : Decapoda
Famili                 : Penaeidae
Genus                : Litopenaeus
  Species              : L. vannamei
Kordi dan Tancung (2007) menjelaskan bahwa kepala udang putih terdiri dari antena, antenula, dan 3 pasang maxilliped. Kepala udang putih juga dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan  pasang kaki berjalan (periopoda). Maxilliped sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Pada ujung peripoda beruas-ruas yang berbentuk capit (dactylus). Dactylus ada pada kaki ke-1, ke-2, dan ke-3. Abdomen terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang (pleopoda) kaki renang dan sepasang uropads (ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson (kaki renang).  
Warna udang vaname adalah putih transparan dengan warna biru dekat bagian telson dan uropoda. Alat kelamin udang jantan disebut pentasma, yang terletak pada pangkal kaki renang pertama. Sedangkan alat kelamin udang betina disebut juga dengan thelycum, terbuka dan terletak diantara pangkal kaki jalan yang ke-4 dan ke-5. Pada jantan dewasa pentasma adalah simetris, semi-open dan tidak bertudung. Bentuk dari spermatophore-nya sangat kompleks, terdiri dari bagian struktur gumpalan yang encapsulated oleh sebuah pelindung (bercabang dan terbungkus). Betina dewasa mempunyai thelycum terbuka dan ini adalah salah satu perbedaan yang paling mencolok pada udang vaname betina (Panjaitan, 2012).

Habitat dan Penyebaran

Sebagai penghuni dasar laut, udang penaeidae hanya kalo sudah mencapai dewasa saja mencari tempat yang dalam ditengah laut. Waktu masih muda, mereka berada di tempat yang dangkal tepi pantai. Bahkan ada yang memasuki muara sungai dan petakan tambak berair payau (Soeseno, 1983).
Menurut Agustina (2014), udang putih mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap salinitas yang luas dengan kisaran salinitas 0-50 ppt. Temperatur juga memiliki pengaruh yang besar pada pertumbuhan udang. Temperatur yang cocok bagi pertumbuhan udang putih adalah pada spesifikasi tahap dan ukuran. Udang muda dapat tumbuh dengan baik dalam air dengan temperatur hangat, tapi semakin besar udang tersebut, maka temperatur optimum akan menurun.

Siklus Hidup

Udang peneid dewasa hidup dan bertelur di laut, kemudian setelah telur menetas menjadi larva tingkat pertama yang disebut nauplius akan berkembang menjadi protozoea setelah 45-60 jam. Protozoea berkembang menjadi mysis setellah 5 hari. Mysis berkembang menjadi post larva setelah 4-5 hari. Post larva  udang bergerak mendekati pantai dan menetap di dasar perairan estuari sampai berkembang menjadi udang muda atau juvenil. Pergerakan seperti inilah yang menyebabkan post larva ditemukan di sepanjang pantai dan paling banyak di daerah mangrove. Perairan estuari lebih kaya nutrisi yang dibutuhkan larva dan parameter kualitas air yang lebih bervariasi dibandingkan di laut dalam. Setelah beberapa bulan di perairan payau, udang dewasa kembali ke laut dan melakukan pemijahan serta melepaskan telurnya (Panjaitan, 2012).
Siklus hidup udang putih dimulai dari udang dewasa yang melakukan pemijahan hingga terjadi fertilisasi. Setelah 16-17 jam dari fertilisasi telur, telur menetas menjadi larva (nauplius). Tahap naupli tersebut memakan kuning telur yang tersimpan dalam tubuhnya dan akan mengalami moulting, kemudian metamorphosis menjadi zoea. Zoea akan mengalami metamorfosis menjadi postlarva. Tahap postlarva adalah tahap saat udang sudah mulai memiliki karakteristik udang dewasa. Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai postlarva membutuhkan waktu sekitar 12 hari. Kemudian postlarva akan dilanjutkan ke tahap juvenil (Wyban dan Sweeney, 1991). 

Related Posts

Udang Vannamei
4/ 5
Oleh